Ramai soal Selain Donatur Dilarang Ngatur, Wajarkah Hubungan Cinta yang Transaksional?

Lifestyle70 Views

Ramai soal Selain Donatur Dilarang Ngatur, Wajarkah Hubungan Cinta yang Transaksional? Jakarta – Media sosial kembali diramaikan perdebatan hangat seputar hubungan asmara, setelah muncul istilah viral “selain donatur dilarang ngatur”. Ungkapan ini muncul sebagai bentuk kritik sekaligus sindiran kepada mereka yang dianggap ikut campur dalam urusan pribadi orang lain, terutama dalam konteks hubungan cinta. Namun, di sisi lain, istilah ini juga memantik diskusi lebih luas tentang konsep hubungan transaksional dalam percintaan.

Apakah benar cinta bisa dikaitkan dengan kontribusi materi? Apakah hubungan romantis yang melibatkan transaksi (baik finansial maupun bentuk lainnya) masih bisa dikatakan sehat? Atau justru ini mencerminkan pergeseran nilai dalam cara masyarakat modern melihat cinta dan komitmen?

Berikut ini ulasan lengkap tentang fenomena tersebut, ditinjau dari sudut pandang sosial, psikologis, hingga budaya.

Hubungan Cinta Asal Mula Ungkapan “Selain Donatur Dilarang Ngatur”

Fenomena Viral yang Picu Polemik

Ungkapan “selain donatur dilarang ngatur” awalnya muncul dalam konteks percakapan informal di media sosial. Kalimat ini sering digunakan sebagai balasan sindiran kepada warganet atau pihak luar yang dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi, seperti gaya pacaran, cara berpakaian, hingga pilihan pasangan.

Makna tersiratnya adalah: “Kalau kamu tidak memberi kontribusi nyata, khususnya secara materi, maka kamu tidak punya hak untuk mengatur hidup saya.”

Ungkapan ini pun menuai pro dan kontra. Ada yang menganggapnya sebagai bentuk pernyataan kemerdekaan individu, tapi ada juga yang menilainya sebagai bentuk normalisasi hubungan transaksional yang dangkal.

Apa Itu Hubungan Cinta yang Transaksional?

Hubungan Cinta dengan Imbalan: Realistis atau Materialistis?

Secara sederhana, hubungan transaksional merujuk pada relasi yang didasarkan pada timbal balik yang jelas dan terukur. Misalnya:

  • Salah satu pihak memberi uang, pihak lain memberi perhatian atau cinta.
  • Salah satu memberi fasilitas hidup nyaman, pihak lain memberi loyalitas.
  • Salah satu jadi penanggung biaya, pihak lain jadi “pasangan ideal” di muka publik.

Fenomena ini tidak sepenuhnya baru. Dalam berbagai bentuk, hubungan transaksional telah lama ada, baik dalam pernikahan maupun pacaran. Namun yang membedakan adalah tingkat keterbukaan dan normalisasi konsep tersebut di ruang publik, terutama sejak munculnya budaya influencer, sugar dating, hingga lifestyle relationship di kalangan urban.

Apakah Hubungan Cinta Transaksional Salah?

Dilihat dari Kacamata Psikologi dan Sosial

Menurut sejumlah pakar psikologi hubungan, hubungan transaksional tidak selalu buruk, asalkan disepakati secara sadar oleh kedua pihak. Dalam teori sosial, ini disebut sebagai exchange theory: relasi terbentuk karena masing-masing pihak merasa mendapatkan sesuatu yang bernilai dari yang lain.

Namun, ada risiko besar yang perlu diwaspadai:

  • Ketimpangan kekuasaan (power imbalance): Pihak yang memberi lebih (donatur) bisa merasa lebih berhak mengontrol.
  • Cinta menjadi bersyarat: Hubungan bisa berakhir saat transaksi dianggap “rugi”.
  • Hilangnya keintiman emosional: Hubungan terasa kaku dan berdasarkan “perjanjian tidak tertulis” semata.
  • Stigma sosial: Terutama jika salah satu pihak dianggap “memanfaatkan”.

Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, dr. Intan Dewi, M.Psi, menyatakan bahwa cinta idealnya dibangun atas dasar saling percaya, saling menghargai, dan komunikasi terbuka.

“Jika sebuah hubungan hanya berjalan baik selama ada imbalan, maka cinta yang murni menjadi sulit berkembang,” ujarnya.

Normalisasi Relasi Transaksional di Media Sosial

Gaya Hidup, Ekspektasi, dan Monetisasi Cinta

Di era digital, cinta dan relasi tidak lagi urusan privat semata. Banyak pasangan menampilkan kehidupan romantis mereka secara publik, lengkap dengan hadiah mahal, staycation mewah, dan dinner eksklusif. Ini tak jarang menimbulkan ekspektasi tinggi dalam hubungan, khususnya di kalangan muda.

Di sisi lain, konten seperti “relationship goals” kadang membuat banyak orang berpikir bahwa cinta harus selalu dibuktikan lewat materi.

Dampaknya:

  • Muncul kalimat seperti “kalau sayang, ya transfer”.
  • Hadiah dijadikan tolok ukur seberapa besar cinta seseorang.
  • Pasangan dianggap ‘tidak layak’ jika tak bisa memenuhi ekspektasi finansial.

Kondisi ini menimbulkan bias bahwa kontribusi emosional dan kehadiran fisik saja dianggap tidak cukup dalam sebuah hubungan.

Budaya Patriarki dan Peran Gender dalam Relasi Transaksional

Menariknya, dalam banyak kasus, relasi transaksional masih sangat dipengaruhi oleh pola patriarki, di mana pria berperan sebagai pemberi materi, dan wanita sebagai penerima dan “penjaga hubungan”.

Hal ini mengundang pertanyaan lebih besar: apakah relasi seperti ini menguntungkan salah satu pihak secara sistemik? Dan apakah perempuan yang bersikap mandiri dan menolak “donatur” justru lebih dibebani secara emosional?

Antara Realita dan Harapan: Cinta Seperti Apa yang Sehat?

Cinta yang sehat tak selalu bebas dari pemberian atau dukungan finansial. Justru, dalam banyak kasus, hubungan sehat memiliki aspek saling memberi, baik secara emosional, finansial, maupun sosial. Namun, relasi ini dibangun atas dasar:

  • Kejujuran dan keterbukaan
  • Rasa saling menghargai, bukan menuntut
  • Komunikasi yang seimbang
  • Kesepakatan bersama, bukan paksaan satu pihak

Sementara itu, istilah seperti “selain donatur dilarang ngatur” bisa mencerminkan resistensi terhadap kontrol, tapi juga bisa membuka ruang pembenaran atas relasi yang tidak seimbang secara nilai.

Jangan Transaksional Tanpa Emosional

Fenomena hubungan cinta yang kian transaksional menjadi cerminan bagaimana nilai-nilai dalam masyarakat terus berkembang dan beradaptasi dengan zaman. Namun, penting untuk selalu mengingat bahwa materi bukan satu-satunya bentuk cinta. Saat cinta hanya dipertukarkan dengan uang atau fasilitas, maka akan sulit bagi hubungan itu bertahan saat kondisi ekonomi berubah.

📌 Jadi, apakah wajar jika hubungan cinta bersifat transaksional? Wajar, jika dilakukan dengan kesadaran dan keseimbangan. Tapi lebih baik, jika cinta tak hanya soal memberi dan menerima—tapi juga tentang memahami dan bersama-sama bertumbuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *